Pemikiran Alternatif: Tukang Besi Tidak Membentur Buton

Saturday, March 26, 2011

by Awang Harun Satyana
on Fri, March 25, 2011

Rekan-rekan yang bekerja di Sulawesi, khususnya di Lengan Tenggara Sulawesi, pasti mengenal publikasi dari John Davidson (1991, IPA Proceedings) berjudul “The geology and prospectivity of Buton island, S.E. Sulawesi, Indonesia”. Kala itu, John adalah geologist Conoco. Conoco pada akhir 1980-an – awal 1990-an menjadi operator di Blok Buton. Buton telah dikerjakan oleh perusahaan2 minyak sejak akhir 1960-an, enam sumur eksplorasi telah dibor, semuanya belum menemukan akumulasi hidrokarbon, meskipun beberapa sumur disertai hydrocarbon shows. Saat ini, Buton dikerjakan oleh Japex (WK Buton) dan Putindo (WK Buton I). Eksplorasi masih dilakukan, belum ada lagi pengeboran sumur eksplorasi terbaru sejak Conoco mengebor sumur Jambu-1 pada tahun 1991.

Buton diingat orang karena tambang aspalnya yang besar dan pernah menjadi lapangan/penambangan aspal terbesar di seluruh Asia sebelum Perang Dunia II (van Bemmelen, 1949). Berdasarkan studi geokimia, aspal di Buton adalah akumulasi minyak yang terbiodegradasi dan/atau tercuci (meteoric water flushing). Batuan induk minyak ini berkualitas istimewa, merupakan serpih marin Formasi Winto berumur Trias. Hal ini menunjukkan bahwa di area Buton telah terjadi generasi, migrasi dan pemerangkapan minyak. Perusahaan-perusahaan minyak di sini mengeksplorasi Buton untuk mencari perangkap yang utuh sehingga akumulasi minyaknya tak mengalami biodegradasi/pencucian. Tektonik Buton terkenal kompleks dan intensif, sebagian perangkap rusak oleh tektonik, antara lain menyebakan tererosinya lapisan penutup perangkap. Ketidakhadiran atau tidak sempurnanya lapisan batuan penutup mudah menyebabkan terjadinya biodegradasi/pencucian.

Secara geologi, Buton juga dikenal sebagai sebuah mikrokontinen yang membentur Sulawesi Tenggara. Inilah yang akan saya diskusikan lebih lanjut. Sebuah penampang geologi terkenal dari Davidson (1991), yang selalu muncul dan digunakan setiap geologist yang bekerja di Buton, menunjukkan ‘double collision’, yaitu: (1) Muna dibentur Buton pada Miosen Awal, dan (2) Buton dibentur Tukang Besi pada Pliosen Akhir. Muna adalah nama pulau di sebelah barat Buton, Tukang Besi adalah nama kepulauan di sebelah timur Buton (sebagian publikasi, terutama publikasi2 tentang terumbu modern, menyebut Tukang Besi sebagai ‘Wakatobi’). Wakatobi adalah kependekan dari ‘Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomea, dan Binongko’. Itulah keempat pulau besar penyusun Kepulauan Tukang Besi. Nama ‘Tukang Besi’ sendiri memang berasal dari para pengrajin besi yang ditemukan di Pulau Tomea dan Binongko. Teman-teman yang menyukai olahraga menyelam atau snorkeling, tentu telah mengenal ‘Wakatobi’ sebab inilah salah satu tempat terbaik di Indonesia bahkan dunia, untuk melihat terumbu koral modern. Jacques Cousteau, oceanographer terkenal dari Prancis yang banyak membuat film bawah laut itu, pernah mampir ke sini.

Davidson (1991) mempublikasi makalah tentang geologi dan petroleum system Buton yang sangat baik dan lengkap, maka tak mengherankan semua geologist yang meneliti Buton mengacunya, termasuk saya. Dalam beberapa bulan terakhir ini, untuk kepentingan penulisan sebuah makalah, saya melihat-lihat kembali secara lebih detail publikasi2 tentang Buton yang tak banyak itu. Analisis dilakukan, dibantu dengan data-data tidak dipublikasi dan cek lapangan. Berdasarkan itu, maka lahirlah pemikiran alternatif tentang tektonik Buton yang intinya adalah bahwa: Tukang Besi tidak membentur Buton, justru Tukang Besi dilepaskan Buton. Tentu saja pemikiran ini bertentangan dengan Davidson (1991) dan kebanyakan geologist yang pernah/sedang mengerjakan Buton.

Hubungan antara Buton dan Kepulauan Tukang Besi (yang sebagian besar merupakan paparan yang tenggelam) tidaklah jelas. Hamilton (1979) mengelompokkan Buton Timur dan Tukang Besi sebagai satu mikrokontinen, yang berbeda dari segmen Buton Barat dan Muna. Fortuin et al. (1990 - Journal of Southeast Asian Earth Science, 4, 107–124), dan Davidson (1991) juga makalah terbaru tentang Buton di IPA Proceedings (Tanjung et al. -2007) menyatakan bahwa Buton dan Tukang Besi adalah dua mikrokontinen yang berbeda yang membentuk kompleks double collision dari Muna-Buton-Tukang Besi. Buton membentur Muna pada early Miocene, Tukang Besi membentur Buton pada late Pliocene. Efek pertama benturan Buton-Tukang Besi disebutkan tercatat pada late Pliocene strata, berupa reefs yang berkembang di uplifted blocks sedangkan deep marine foraminiferal packstones dan marls berkembang relatif di downthrown blocks-nya. Benturan ini mengakibatkan wilayah yang lebih terangkat di Buton sebelah selatan dibandingkan sebelah utaranya. Buktinya adalah bahwa di sebelah selatan ini banyak teras pantainya dengan Pleistocene reefs (teman2 Japex pasti mengetahuinya dengan baik), sementara di sebelah utaranya terdapat drowned estuaries dan subsiding atoll.

Adalah Milsom et al. (1999, AAPG Bull.) berdasarkan atas gravity data, yang pertama kali meragukan bahwa Tukang Besi membentur Buton. Mereka bahkan mengemukakan bahwa Tukang Besi adalah bagian Buton yang lalu ‘lepas’ sebagai respon post-collision extension. Pemikiran Milsom et al (1999) ini menarik dan saya menemukan gejala yang sama di seluruh Indonesia sebagai akibat post-collision tectonics (publikasi tentang ini, bila diminati, bisa dicari di proceedings IAGI PIT Pekanbaru (Satyana, 2006), proceedings PIT IAGI-HAGI-IATMI di Nusa Dua (Satyana et al., 2007) dan proceedings IPA 2008 (Satyana et al., 2009) tentang collision dan post-collision tectonics. Saat menulis makalah2 itu, saya pun masih menggunakan konsep double collision Muna-Buton-Tukang Besi ala Davidson (1991). Sekarang, setelah mempelajarinya lebih detail, justru post-collision tectonics berupa detachment (pelepasan) Tukang Besi dari Buton kelihatannya lebih meyakinkan, daripada membenturnya.

Paparan Tukang Besi terletak di sebelah timur Buton bagian selatan. Hamilton (1979) merupakan publikasi pertama yang menyebutkan bahwa paparan ini suatu mikrokontinen. Batas paparan ini, menurut Milsom et al. (1999) ada pada 2000 m bathymetric contour, yang meliputi area laut dangkal yang cukup luas. Di luar batas ini, terdapat lereng yang sangat curam ke sisi-sisi utara, timur dan selatan; sementara ke sebelah baratnya ia mendangkal ke Buton. Data gravity dari Milsom et al. (1999) menunjukkan bahwa di area paparan Tukang Besi, terdapat tiga punggungan yang naik ke permukaan dari kedalaman laut 1200-1500 meter yang lebih kurang sejajar membentuk kelurusan BL-tenggara: disebut Punggungan Langkesi (utara), Wangi Wangi (tengah) dan Karang Kaledupa (selatan). Trend Tukang Besi yang secara umum membentuk kelurusan BL-tenggara dan trend Buton yang lebih kurang utara-selatan membuat banyak penulis berpendapat bahwa Buton dan Tukang Besi adalah dua mikrokontinen berbeda yang lalu berbenturan pada waktu yang belum lama secara geologi (Pliosen akhir). Peta geologi Kepulauan Tukang Besi menunjukkan bahwa geologi permukaan pulau-pulau ini hanya disusun oleh batuan terumbu dan batuan sedimen lainnya yang berumur Kuarter. Penyelidikan geomarin yang pernah dilakukan di sini, di sisi timurlaut paparan, yang kebetulan merupakan lokasi Hamilton Fault, dengan cara dredging menemukan diabas berumur 9 Ma dan batuan sedimen berumur late-middle Miocene serta late Miocene (Silver et al., 1985 - Geology, 13, 687–691). Seismic lines dari the Scripps Institution of Oceanography Mariana 9 cruise, yang pernah melakukan survei di tepi timurlaut paparan ini menunjukkan kehadiran thin cover of young sediments dan strong angular unconformity antara lapisan Neogen dengan Paleogen atau yang lebih tua, meskipun resolusinya lemah.

Collision atau benturan dua mikrokontinen umumnya akan menjepit kerak samudera yang semula terletak di tengah dua mikrokontinen itu, bahkan melepaskan ikatan kerak samudera itu dari induknya, sehingga menjadi jalur kerak samudera atau ofiolit yang ‘rootless’ alias tak punya akar. Tempat benturan dua mikrokontinen itu umum disebut ‘suture’. Publikasi saya tentang Meratus ophiolites (Satyana & Armandita, 2008 – proceedings HAGI) sebagai studi kasus, membahas hal ini yang dikonfirmasi data dan pemodelan gravity. Begitu juga di banyak jalur ofiolit lain di seluruh Indonesia (Satyana et al., 2007, proceedings IAGI-HAGI-IATMI). Maka bila Tukang Besi membentur Buton, harus ada jalur ofiolit di antara Buton dan Tukang Besi, apalagi penampang Davidson (1991) itu menunjukkannya. Masalahnya, tak pernah ada jalur ofiolit ditemukan di antara kedua wilayah ini, dan yang lebih meragukan lagi bahwa Tukang Besi membentur Buton, tak ada struktur kompresi ditemukan antara Tukang Besi dan Buton. Buton jelas membentur Muna sebab kita mendapatkan jalur ofiolit Kapantoreh di bagian selatan Buton, kita juga punya banyak struktur kompresi di Buton akibat benturan itu (struktur kompresi di Buton bukan akibat benturan Tukang Besi, saya terangkan di bawah ini).

Bila Tukang Besi membentur Buton di post-Miocene (Pliosen akhir menurut Davidson, 1991), bukti struktur2 kompresif akibat benturan ini mestinya akan banyak terjadi di Teluk Kulisusu (di beberapa peta disebut Teluk Kolowara-Watabo) yang diperkirakan menjadi suture zone-nya. Tetapi, berdasarkan data seismik dari the Scripps Institution of Oceanography Mariana 9 cruise di Kulisusu Bay, justru yang muncul adalah struktur-struktur ekstensi seperti bekas collapse. Collapse berupa sesar-sesar turun, ekstensional umum dijumpai di dekat (sekitar) jalur benturan, yang kejadiannya sebenarnya menunjukkan proses isostasi untuk mengkompensasi pengangkatan (uplift) karena benturan. Milsom et al. (1999) berdasarkan data gravity bahkan menunjukkan bahwa paparan Tukang Besi terbagi-bagi menjadi segmen-segmen tertentu yang disebutnya discrete blocks. Mekanisme ini diterangkannya sebagai akibat dispersi. Batas-batas blok tersegmentasi ini berdasarkan analogi dengan tempat lain tidak pernah merupakan struktur kompresi (thrusting), tetapi seringnya merupakan extensional atau transcurrent faults. Berdasarkan hal ini, maka benturan Buton terhadap Muna memicu detachment sebagian wilayah kerak litosfer yang semula dipertebal oleh middle Miocene collision Muna-Buton, yang menyebabkan isostatic rebound lalu dispersal, seperti dialami Tukang Besi. Maka kesan yang dominan atas hubungan Buton-Tukang Besi justru adalah fragmentasi Tukang Besi dari Buton, daripada amalgamasi Tukang Besi kepada Buton.

Maka , saya memikirkan bahwa Tukang Besi adalah satu mikrokontinen dengan Buton. Hal ini beranalogi dengan mikrokontinen lain yang membentur Sulawesi, yaitu Banggai-Sula. Publikasi tentang Banggai-Sula dari Garrard et al. (1988, Proceedings IPA) menunjukkan kehadiran extensional dan collapse structures di antara Banggai and Sula. Collapse structures di sini merupakan isostatic response karena collision bagian frontal mikrokontinen (Banggai portion). Atas analogi itu, maka saya menyebut Buton sebagai ‘frontal/anterior/head’ part of the microcontinent, sedangkan Tukang Besi adalah ‘rear/posterior/tail’ part of the microcontinent. Ketika head Buton membentur Muna Block dan menjadi terangkat, maka diikuti oleh kompensasi isostatik berupa gaya relaksasi yang membentuk collapse/extensional structures di area antara head and the tail parts, yaitu di area junction antara Buton dan Tukang Besi. Detachment Tukang Besi dari Buton adalah sebuah isostatic rebound karena lithosphere thickening oleh middle Miocene collision antara Buton dan Muna.

Pemikiran alternatif ini tentu akan punya implikasi kepada petroleum geology dan petroleum system Buton.

Salam,
Awang

Profil Tokoh: Awang Harun Satyana

Friday, March 25, 2011

Suatu tokoh inspirasional di dunia Geologi Indonesia bagi saya salah satunya adalah Pak Awang Harun Satyana. Pemikirannya yang cerdas ditambah lagi beliau lulusan almamater yang sama. ;D Berikut adalah sepenggal kisah hidupnya, saya dapatkan dari milis Geo-Unpad. Selamat membaca, semoga dapat menginspirasi kaum geologist Indonesia. =)



On Fri, 9/26/08

Saya ingin berbagi cerita sedikit. Semoga tak terlalu menyita waktu rekan-rekan Geo-Unpad yang mau membacanya.

Saya menyukai kedokteran dan geologi sejak saya duduk di SMP. Buku-buku kedokteran dan geologi sudah saya kumpulkan sejak kelas 3 SMP, tahun 1979, tahun saat saya memulai membangun perpustakaan pribadi. Setiap minggu dengan uang saku sisa seadanya saya biasa membeli buku-buku bekas di pedagang loak Pasar Cihapit. Di kiosk-kiosk buku loak itu saya suka bertemu dengan Prof. G.A. de Neve, geologist Belanda berbadan besar. Di situ pula saya temukan buku-buku geologi van Bemmelen, Henry Brouwer, Umbgrove, Katili, dll. Buku2 kedokteran setebal 10 cm pun saya membelinya sebagai persiapan kalau-kalau saya jadi mahasiswa kedokteran. Tentu untuk membeli semua buku itu saya harus menabung dulu beberapa minggu. Akhirnya, saat saya duduk SMA terkumpulah 2000 buku macam-macam. Buku-buku geologi loakan itu saya sering lihat-lihat. Dari SMP pun saya suka bermain ke museum geologi yang tak jauh dari rumah. Betapa menariknya geologi !

Saat tes masuk perguruan tinggi, saya tentu memilih Kedokteran dan Geologi, dua-duanya di Unpad. Mengapa saya tak memilih geologi di ITB ? Sebab dalam pandangan saya saat itu, lulusan geologi ITB akan jadi insinyur teknik geologi, sesuatu yang saya tak inginkan sebab saya ingin menjadi seorang ilmuwan geologi. Maka saya memilih geologi Unpad yang bernaung di bawah Fakultas MIPA, tentu bernuansa lebih ilmiah dan bukan teknik. Ternyata, baik geologi ITB maupun geologi Unpad sama saja, lulusan geologi Unpad pun saat saya lulus gelarnya insinyur pula. Lalu, saya gagal masuk kedokteran Unpad dan diterima di geologi Unpad. Tahun 1983 saat itu. Karena menjadi dokter adalah cita-cita saya sejak kecil, saya mencoba masuk kedokteran Maranatha, diterima dan sempat kuliah satu tahun, kemudian diputuskan keluar karena biaya. Tahun 1984 saya mencoba lagi masuk kedokteran Unpad, gagal lagi, ya sudah, cita-cita menjadi dokter saya kubur. Saya ingin bertekun di geologi saja.

Selama tahun1983-1988 saya kuliah geologi di dua tempat : satu di kampus (formal), satu di perpustakaan P3G (informal). Di kampus saya mendapatkan pendidikan dari bapak-bapak dosen, di perpustakaan geologi saya belajar geologi dari laporan-laporan, jurnal-jurnal, dan banyak lainnya. Pulang dari perpustakaan saya selalu mampir ke museum agar hafal ini batu ini, itu batu itu. Para petugas perpusatakaan P3G tahun 1983-1988 adalah orang-orang yang sangat berjasa buat saya (Bu Polhaupessy, Pak Ade, Pak Anton, Eutik, Teh Ani, dll...) yang tak bosan melihat saya hampir setiap hari berjam-jam di situ selama bertahun-tahun. Kalau bekerja di perpustakaan, saya pasti mencatat banyak hal penting dari bahan yang saya pelajari. Catatan-catatan di kertas bekas itu kalau ditumpuk ada satu meter tingginya.

Lulus sekolah Februari 1989, saya mengirimkan surat lamaran ke 40 perusahaan dan instansi. Yang menjawab hanya empat : tak ada lowongan ! Selama setahun saya mencari pekerjaan ke sana-sini sambil bekerja paruh waktu di sebuah konsutan pertambangan di Bandung. Saya membentuk kelompok bahasa Inggris dengan teman-teman yang bertemu seminggu sekali sambil bertukar info soal bursa pekerjaan. Kelompok kecil ini kemudian ternyata sangat membantu saya saat tes wawancara dengan perusahaan yang memanggil saya. Di ujung 1989, kesempatan datang dan saya dapat memanfaatkannya dengan baik. Saya lulus tes masuk P3G, juga lulus tes masuk Pertamina. Saya melamar ke P3G karena ingin melanjutkan sekolah sebab saat itu di P3G banyak sekali doktornya. Melamar ke Pertamina karena saya ingin dapat gaji yang lumayan. Bingung saya memutuskan, masuk ke P3G atau Pertamina ?

Di P3G, saya punya banyak teman senior baik yang master maupun doktor, itu karena saya rajin ke P3G dan memberanikan diri mengobrol dengan mereka.. Satu per satu saya tanya, saya mesti masuk ke mana, P3G atau Pertamina ? Jawaban sekian banyak ahli itu : jangan masuk P3G, duitnya sedikit, kesempatan sekolah pun sedang jarang (begitu kira-kira jawabannya). Maka, saya bulatkan masuk Pertamina saja.

Di Pertamina tahun 1990-1997 saya sibuk sebagai seorang exploration geologist. Tahun 1991 dibuka kesempatan sekolah S2 (lalu S3), saya terpilih untuk ikut tes, datang dari Balikpapan ke Jakarta, bersaing dengan sekian belas teman2 Pertamina lain. Pulang ke Balikpapan saya diberitahukan bahwa saya tidak lulus, katanya gagal di wawancara sebab yang diperlukan adalah orang yang senang riset 100 % (saya menjawab saat wawancara saya suka riset 50 % dan operasi lapangan 50 %). Apakah hanya itu kriteria kelulusan ? Saya tidak yakin..., tetapi sudahlah, saya akan tetap mencintai geologi meskipun tidak sebagai S2 apalagi S3. Lima tahun karier awal saya ternyata pekerjaannya serabutan dan kebanyakan pergi ke lapangan. Studi-studi geologi semakin jauh dari saya. Terus terang, saat itu saya mengiri kepada teman-teman yang ditempatkan di bagian studi geologi yang sering berdiskusi dengan ahli2 geologi S3 dari ITB atau LIPI atau tempat lain sebagai konsultan studi2 Pertamina. sementara saya, jauh di lapangan, di tengah hutan menjaga sumur2 sebagai wellsite geologist.

Tetapi, saya selalu ingat kata-kata ini, kata2 yang saya temukan di lembar pertama skripsi Pak Ildrem Syafri yang saya panggil Uda Ildrem : "Lebih baik menyusul dengan diam-diam daripada membuang waktu dengan iri hati kepada orang yang berjalan di depan.".Maka, hari-hari saya penuhi dengan belajar dan belajar, hari-hari saya penuhi dengan menulis dan menulis. Tahun 1993 saya mulai menulis paper yang saya kirimkan ke PIT IAGI atau IPA; dan sejak itu saya tak bisa lagi berhenti belajar dan menulis. Saya menulis banyak hal dalam geologi sebab saya belajar banyak hal dalam geologi. Saya tetap menulis meskipun saya bukan seorang S2 atau S3, bukan seorang yang bekerja di lembaga riset, bukan seorang yang bekerja di perguruan tinggi. Saya menulis bukan untuk mengejar nilai kum, tetapi saya menulis karena mencintai geologi dan ingin menyampaikan pikiran saya kepada khalayak ramai. Teman-teman saya yang master dan doktor di Pertamina, yang dulu sama-sama waktu tes untuk S2 dan S3 (mereka berhasil sementara saya gagal) saya amati terus publikasinya, ternyata publikasi saya jauh lebih banyak...Saya beranikan meneliti dan menulis meskipun isinya bisa bersinggungan atau mungkin ditertawakan doktor-doktor ahlinya.

Lalu, tahun 1997-2000 saya dipindahkan ke JOB Santa Fe-Salawati joint antara Pertamina dan Santa Fe untuk mengerjakan Cekungan Salawati. Inilah periode yang berharga untuk saya melakukan banyak studi secara mandiri. Saya belajar dan berbuat (learning by doing). Berbagai macam studi saya lakukan di sini, mulai dari geokimia sampai struktur. Semua studi bukan diinstruksikan dari atasan, tetapi atas keinginan sendiri. Ada sekitar tujuh volume laporan studi selama empat tahun yang produktif itu. Studi-studi itu telah sangat membantu saya memahami petroleum geology secara terintegrasi. Saya makin percaya : no pain no gain. Saya juga percaya bahwa tak ada yang sulit dalam hidup ini asal mau berikhtiar, berusaha, dan ulet.

Menjelang tahun 2000 dan sesudahnya mulai banyak teman yang mengambil sekolah S2, baik dibiayai perusahaan maupun biaya sendiri. Dosen2 dari ITB datang ke kantor seminggu sekali mengajari mereka. Saya tak berminat mengambilnya, saya sudah lama belajar sendiri di perpustakaan saya yang saat itu sudah hampir 5000 koleksi buku-bukunya tak termasuk ribuan paper geologi. Mengambil sekolah lagi ibarat merasa mengkhianati diri sendiri yang sudah bersumpah otodidak.

Tahun 2000 saya dipindahkan ke Pertamina MPS (manajelem production sharing - asal muasal BPMIGAS sekarang). Di sini sama sekali bukan tempat riset, bukan tempat melakukan studi-studi geologi, dan sejenisnya, tetapi tempat mengawasi dan mengkoordinasi kegiatan-kegiatan yang dilakukan kontraktor2 perminyakan Indonesia. Banyak orang bilang bahwa di Pertamina MPS kemampuan teknis kita akan berkurang dan hilang sebab kemampuan kita tak dipakai lagi, tak mengerjakan studi lagi, hanya menilai. Benarkah begitu ? Mungkin ya mungkin tidak. Tetapi yang jelas justru di Pertamina MPS-BPMIGAS lah kecintaan saya kepada geologi makin menjadi sebab saya dikelilingi sedemikian banyak data dari seluruh Indonesia. Saya juga menerima laporan studi ini studi itu. Maka lebih dari setengah jumlah total publikasi saya, saya tulis di Pertamina MPS-BPMIGAS.

Saat ini jumlah total publikasi saya sudah 139 (56 paper untuk berbagai pertemuan nasional dan internasonal, 23 artikel untuk jurnal dalam dan luar negeri, 6 bab di dalam enam buku, 24 presentasi undangan dan pidato kunci, 21 kuliah umum/tamu di berbagai perguruan tinggi, dan 9 buku manual kursus untuk profesional) . Semua saya tulis atas nama cinta saya kepada geologi dan pengabdian saya kepada masyarakat geologi dan masyarakat awam. Tidak ada satu pun daripadanya yang saya tulis untuk mengejar kum sebab saya bukan dosen dan bukan peneliti di lembaga riset; dan tidak ada satu pun yang saya tulis untuk mengejar salary geology..

Kini, di perpustakaan saya di rumah, saya dikepung oleh hampir 6500 buku. Buku-buku yang telah saya kumpulkan dari tahun 1979, hampir 30 tahun yang lalu. Itulah sekolah saya, sekolah tanpa teman, tanpa gelar, tanpa kelulusan, tetapi dengan ribuan dosen-dosen hebat yang bisa saya tanya kapan saja baik tengah malam maupun dini hari. Ujiannya adalah membuat paper-paper dan mempresentasikannya . Akan ada pertentangan yang hebat dalam diri saya kalau saya mengambil sekolah lagi, itu ibarat mengkhinati diri sendiri yang sudah bersumpah "otodidak". Hampir 20 tahun otodidak, tak gampang "mengkhianatinya" .

Suatu hari saya duduk bersebelahan dengan Prof. Robert Hall, ahli tektonik SE Asia yang terkenal itu, di dalam sebuah pertemuan internasional. Saya dan Prof. Hall sama-sama presentasi tektonik Jawa Tengah. Kami berbagi kartu nama dan Prof. Hall langsung berkomentar demi melihat institusi saya (BPMIGAS), "you did your research as a hobby, didn't you ?" Ya, semuanya karena hobi, seperti juga yang Pak Herman lakukan.

Saya sudah menemukan kecintaan saya dalam geologi. Apakah keahlian geologi bisa dijadikan uang ? Tentu saja ! Tetapi bukan itu perhatian saya yang utama, uang akan mengikuti kita apabila kita punya magnet untuk menariknya. Magnet itu bernama keahlian. Saya ingin mengatakan kepada para junior saya : besarkan dulu keahlian geologimu, uang akan mengikutinya apabila keahlian itu sudah menjadi magnet Jangan membuatnya terbalik.

salam,
awang
 
Beautiful Mind. Design by Pocket